Ia mentari yg sinarnya tak pernah redup bagiku.
Dia hatiku, sesuatu yg tak terhapus dalam dinding kalbuku…
Dia adalah bayangan yg ada dstiap jalan hidupq
Dia adalah senja dia adalah fajar
Dia adalah gelak tawaku
Dia derail air mataq
Dia adalah hujan dia adalah terik mentari
Namanya kini tak sanggup ku buang dalam ingatanku
Dia seolah merajaiku
Disini di dinding kalbuku
Kini meski q serahkan nyawa bukankah sudah terlambat??????
Karna RINDU ku padanya sudah TERLARANG!!!!!
sepuluh tahun yang lalu!!!!
mentari pg itu bersinar agak aneh, kadang terik kadang redup, aku cemas apa harus bawa payung kesekolah tp payung yg ku punya ukurannya besar, aku malu bila harus membawanya.
lalu ku putuskan untuk tidak membawanya,
siangnya benar saja mentari tampak tersenyum riang, tapi tak lama
saat pulng sekolah langit malah tampak menakutkan dia hitam pekat kemudian jutaan liter air ditumpahkan membasahi ku yg saat itu sedang dijalan
aku jalan kaki untuk pulang kerumah, dan jarak kerumah masih jauh saat hujan lebat mengguyur jalan pulangku, aku berteduh diteras rumah tak berpenghuni, rasa takut bagai mencekik leherku, hujan semakin lebat ditambah kilat dan petir terdengar bak meriam dmedan perang.
lalu DIA menghampiri!!! tuhan…. apa aku bermimpi???
tanpa henti kutatap wajahnya yg basah karna air hujan,
lalu IA tersenyum sambil sesekali memeluk tubuhnya yg kedinginan
“bawa payung ga?” tanyanya
“ga, kn kamu tau payung punyaku besar banget, malu klau dibawa”ucapku lalu IA tersenyum, membuatku semakin terkesima
“ya iyalah, payung sama orangnya gedean payungnya” sindirnya
lalu kami tertawa bersama.
“pulang aja yu!!” ajaknya
“masih hujan….” jawabku melihat hujan masih lebat
“udah terlanjur basah juga kan?”ucapnya
aku sempat menolak tapi…
tangannya menggenggam tanganku lalu menarikku untuk bergabung dengan hujan.
“Dion…!!!!”gertakku
aku marah dengan tingkahnya, tapi melihat matanya hatiku berdebar tak karuan.